Loading...

 
Senin, 22 Juni 2026 - 03:16:50 WIB                  


Tatalaksana Spesimen Hantavirus: Dari Pengambilan hingga Pengiriman yang Aman


Tanggal Posting : Senin, 22 Juni 2026 - 03:16:50 WIB
Dibaca : 43 kali


Pendahuluan

Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang ditularkan terutama dari rodensia ke manusia melalui paparan aerosol yang berasal dari urin, feses, atau saliva hewan yang terinfeksi. Pada manusia, infeksi hantavirus dapat menyebabkan dua sindrom utama, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang dapat menyebabkan gangguan ginjal berat.

Meskipun kasus hantavirus relatif jarang dibandingkan penyakit infeksi lainnya, penyakit ini memiliki tingkat keparahan yang tinggi dan dapat berakibat fatal. Oleh karena itu, diagnosis laboratorium menjadi komponen penting dalam penegakan kasus, surveilans, dan kewaspadaan dini terhadap potensi wabah. Keberhasilan diagnosis tidak hanya ditentukan oleh metode pemeriksaan laboratorium, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kualitas spesimen, keselamatan petugas, serta keamanan selama proses pengemasan dan pengiriman spesimen.

Jenis Spesimen yang Diperlukan

Pemilihan spesimen yang tepat merupakan faktor penting untuk memperoleh hasil pemeriksaan yang akurat. Untuk pemeriksaan molekuler menggunakan metode PCR, darah lengkap yang menggunakan antikoagulan EDTA merupakan spesimen yang paling direkomendasikan. Spesimen ini dianggap sebagai standar terbaik karena virus banyak berikatan dengan sel darah sehingga peluang deteksinya lebih tinggi.

Selain darah lengkap EDTA, plasma EDTA juga dapat digunakan dengan sensitivitas yang cukup baik. Serum masih dapat digunakan untuk pemeriksaan molekuler, meskipun sensitivitasnya lebih rendah karena sebagian virus dapat terperangkap dalam bekuan darah. Sebaliknya, darah yang telah membeku atau mengalami hemolisis tidak direkomendasikan karena dapat menghambat proses amplifikasi PCR.

Untuk pemeriksaan serologi, baik serum maupun plasma merupakan spesimen yang umum digunakan untuk mendeteksi respons antibodi terhadap infeksi hantavirus. Oleh karena itu, pemilihan jenis spesimen harus disesuaikan dengan tujuan pemeriksaan yang akan dilakukan.

Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)

Pengambilan dan penanganan spesimen hantavirus harus selalu memperhatikan prinsip biosafety untuk melindungi tenaga kesehatan dan petugas laboratorium dari risiko paparan bahan infeksius. Risiko utama berasal dari kemungkinan kontak dengan darah atau terbentuknya aerosol selama proses pengambilan, pengolahan, maupun pemeriksaan spesimen.
Pada pasien suspek dengan kondisi klinis stabil, petugas dianjurkan menggunakan APD standar yang terdiri dari gaun pelindung (gown), sarung tangan, pelindung mata, dan respirator N95. Kombinasi APD ini bertujuan untuk mencegah paparan melalui percikan maupun aerosol yang mungkin terbentuk selama prosedur.

Pada kondisi tertentu, seperti pasien dengan gejala berat, tindakan yang berpotensi menghasilkan aerosol, atau kasus yang telah terkonfirmasi, tingkat perlindungan APD dapat ditingkatkan sesuai hasil penilaian risiko yang dilakukan misalnya menggunakan Coverall di fasilitas pelayanan kesehatan atau laboratorium. Prinsip utama yang harus diterapkan adalah melindungi petugas

Pengepakan dengan Prinsip Triple Packaging

Salah satu tahapan yang paling kritis dalam tata laksana spesimen Hantavirus adalah proses pengemasan dan pengiriman. Mengingat Hantavirus dapat menyebabkan penyakit berat dan fatal pada manusia, spesimen suspek maupun terkonfirmasi perlu diperlakukan sebagai bahan infeksius berisiko tinggi dengan menerapkan prinsip kewaspadaan maksimal.
Pengiriman spesimen harus menggunakan sistem triple packaging atau pengemasan rangkap tiga yang merupakan standar internasional untuk transportasi bahan infeksius. Sistem ini terdiri atas wadah primer, wadah sekunder, dan wadah luar (outer packaging).

Wadah primer merupakan tabung atau kontainer yang secara langsung berisi spesimen. Wadah ini harus kedap air, tahan bocor, dan diberi identitas yang jelas. Untuk spesimen cair, wadah primer harus dibungkus dengan bahan penyerap yang mampu menyerap seluruh isi spesimen apabila terjadi kebocoran. Tambahkan pendingin jika diperlukan berupa ice gel pack
Wadah sekunder berfungsi melindungi wadah primer dan harus memiliki sifat kedap air serta tahan rembes. Selanjutnya, wadah luar digunakan untuk melindungi seluruh paket dari kerusakan fisik selama proses transportasi. Pada bagian luar kemasan harus ditempelkan label, marka, identitas pengirim dan penerima, serta informasi bahan infeksius sesuai ketentuan yang berlaku.

Dalam pendekatan kewaspadaan tinggi, spesimen Hantavirus diperlakukan sebagai bahan infeksius Kategori A dengan kode UN2814. Oleh karena itu, penggunaan kemasan yang memenuhi persyaratan transportasi bahan infeksius menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan petugas transportasi, petugas laboratorium penerima, dan masyarakat selama proses pengiriman.

Penutup

Tatalaksana spesimen hantavirus merupakan rangkaian proses yang dimulai sejak pemilihan spesimen, penggunaan APD yang tepat, hingga pengemasan dan pengiriman yang aman. Setiap tahapan memiliki peran penting dalam menjamin kualitas hasil pemeriksaan sekaligus melindungi petugas dan masyarakat dari risiko paparan agen infeksius. Dengan penerapan prinsip biosafety yang baik dan kepatuhan terhadap standar pengiriman bahan infeksius, laboratorium dapat mendukung diagnosis yang akurat serta memperkuat sistem surveilans penyakit menular di Indonesia.

Daftar Pustaka
1. World Health Organization (WHO). Laboratory Biosafety Manual, Fourth Edition. Geneva: WHO; 2020.
2. World Health Organization (WHO). Guidance on Regulations for the Transport of Infectious Substances 2019–2020. Geneva: WHO.
3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Hantavirus Disease Information for Clinicians and Laboratories. Atlanta: CDC.
4. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Biosafety in Microbiological and Biomedical Laboratories (BMBL), 6th Edition. Atlanta: CDC; 2020.
5. Public Health Agency of Canada. Pathogen Safety Data Sheet: Hantaviruses. Ottawa: PHAC.
6. Vaheri A, Strandin T, Hepojoki J, Sironen T, Henttonen H, Mäkelä S, Mustonen J. Uncovering the Mysteries of Hantavirus Infections. Nature Reviews Microbiology. 2013;11(8):539–550.

Korespondensi : Kambang, Rulina, Yulia dan Josef ( Tim Kerja Surveilans, Faktor Risiko Kesehatan dan KLB )