Influenza di Indonesia Meningkat, H1N1pdm09 Mendominasi, apa yang perlu diketahui tentang Virus Penyebab Pandemi Flu 2009?
| Tanggal Posting | : | Selasa, 13 Oktober 2026 - 09:11:01 WIB |
| Dibaca | : | 93 kali |

Surveilans Kementerian Kesehatan pada minggu ke-38 2026 mencatat peningkatan aktivitas influenza di tingkat sedang. Positivity rate naik dari 44% menjadi 56% dibandingkan minggu sebelumnya, dengan subtipe dominan H1N1pdm09. Tren serupa juga terlihat secara global, dengan H1N1pdm09 tercatat sebagai subtipe influenza dominan. Kementerian Kesehatan menilai kondisi ini masih mengikuti pola tahunan, tetapi mengimbau penguatan pemantauan dan kesiapsiagaan tanpa kepanikan.
Nama H1N1pdm09 mungkin terdengar asing, tetapi virus ini lebih dikenal sebagai “flu babi” yang memicu pandemi pada 2009. Pada April 2009, virus influenza jenis baru teridentifikasi melalui pemeriksaan laboratorium pada seorang anak di California. Penyelidikan epidemiologi kemudian menunjukkan bahwa penularan skala besar sebenarnya sudah terjadi lebih dulu di Meksiko sejak Maret 2009. Tidak sampai dua bulan sejak ditemukan, virus tersebut telah menyebar ke 74 negara dan dinyatakan sebagai pandemi pada Juni 2009. Pandemi dinyatakan berakhir pada 10 Agustus 2010, tetapi virusnya terus beredar pada populasi manusia dan kini menjadi salah satu penyebab influenza musiman.
Virus H1N1pdm09 terus mengalami perubahan genetik secara bertahap yang menyebabkan virus tersebut dapat terus beredar dan menjadi salah satu penyebab influenza musiman. Perubahan kecil yang terjadi selama virus bereplikasi memengaruhi protein permukaannya, terutama hemaglutinin (HA) dan neuraminidase (NA), dimana akumulasi perubahan tersebut dikenal sebagai pergeseran antigenik. Seiring waktu, perubahan ini dapat menghasilkan strain H1N1 dengan karakteristik antigenik yang sedikit berbeda dari virus sebelumnya. Akibatnya, kekebalan yang terbentuk dari infeksi atau vaksinasi sebelumnya tidak selalu memberikan perlindungan yang sama terhadap virus yang telah mengalami perubahan. Virus pun tetap berpeluang menginfeksi dan menular dari satu orang ke orang lain.
Bagaimana Influenza A dari Babi Sampai ke Manusia?
Awal mula munculnya H1N1pdm09 berasal dari proses pertukaran genetik panjang (reassortment) yang terjadi secara alami di dalam tubuh babi. Babi bertindak sebagai wadah pencampur karena sel tubuhnya dapat diinfeksi oleh berbagai virus influenza dari spesies yang berbeda secara bersamaan, baik yang berasal dari manusia, burung, maupun babi dari benua lain. Pada akhir tahun 1990-an, terjadi percampuran genetik awal yang menghasilkan virus dengan kombinasi gen manusia, burung, dan babi Amerika Utara. Virus "triple reassortant" ini kemudian bertemu dan bertukar gen lagi dengan virus influenza dari babi Eurasia melalui perdagangan babi internasional, menciptakan varian baru "quadruple reassortant" yang telah berevolusi tanpa terdeteksi di alam selama beberapa tahun.
Meski asal genetik virus sudah jelas berasal dari babi, tetapi kapan dan dimana perpindahan virus ini ke manusia belum diketahui pasti. Meksiko sering disebut sebagai lokasi awal, tetapi belum ada bukti pasti akan hal tersebut. Pada kasus-kasus awal 2009, tidak semua pasien memiliki riwayat kontak dengan babi, dan virus menyebar antarmanusia sejak awal. Virus influenza jenis baru ini memiliki karakteristik baru, sehingga sistem kekebalan tubuh manusia belum mengenalnya. Akibatnya, virus menyebar luas dengan cepat dari manusia ke manusia hingga dinyatakan sebagai pandemi pada Juni 2009.
Seberapa Besar Beban Penyakit Akibat Influenza A (H1N1pdm09)?
Sejak 1918, 19 virus influenza A hasil percampuran gen (reassortant) telah muncul pada manusia, dan tiga di antaranya merupakan varian zoonotik asal babi. Pada 2009, muncul jenis influenza baru yaitu H1N1pdm09 yang menyebabkan pandemi dan menginfeksi sekitar 10–20% penduduk dunia. Penularan dari babi ke manusia juga pernah dilaporkan di Hong Kong dan Provinsi Jiangsu, Tiongkok, serta di Amerika Serikat. Meski demikian, sebagian besar infeksi virus influenza babi pada manusia tergolong ringan dan sulit dibedakan dari influenza musiman. Angka kematian H1N1pdm09 sekitar 29 per 100.000 infeksi. Namun, pandemi 2009 diperkirakan menyebabkan 151.700 hingga 575.400 kematian di seluruh dunia pada 12 bulan pertama peredarannya.
Berbeda dari influenza musiman, pandemi H1N1 lebih banyak menyerang kelompok usia muda. Perkiraan berbasis model untuk Amerika Serikat menunjukkan 60,8 juta kasus, 274.304 rawat inap, dan 12.469 kematian pada April 2009 hingga April 2010, dengan 87% kematian terjadi pada orang berusia di bawah 65 tahun. Anak-anak dan orang dewasa usia kerja memiliki risiko rawat inap 4–7 kali dan risiko kematian 8–12 kali lebih tinggi dibandingkan perkiraan dampak influenza musiman tahun 1976 hingga 2001. Sebaliknya, pada orang berusia 65 tahun ke atas, angka rawat inap dan kematian lebih rendah hingga 75% dan 81% dibandingkan influenza musiman.
Penularan H1N1pdm09 terjadi antar manusia dengan cara yang mirip dengan flu musiman biasa, yaitu melalui percikan air liur yang terhirup ke saluran pernapasan. Terkadang, virus ini juga dapat menyebar melalui kontak langsung atau tidak langsung pada selaput lendir di mulut, hidung, dan mata. Kontak dengan sekresi pernapasan dan cairan tubuh dari pasien influenza A (H1N1) atau dengan peralatan yang terkontaminasi juga dapat menyebabkan infeksi. Penularan influenza A (H1N1) lebih rentan pada kelompok dengan antibodi yang lemah, dengan sebagian besar pasien berusia 25–45 tahun. Sebagian besar ahli percaya bahwa populasi berisiko tinggi terkena influenza A (H1N1) berat meliputi ibu hamil, terutama mereka yang terinfeksi dalam 3 bulan pertama kehamilan, anak-anak di bawah usia 2 tahun, dan pasien dengan penyakit paru kronis.
Langkah Pencegahan dan Antisipasi: Dari Perilaku Hidup Bersih Hingga Pemantauan Influenza
Secara umum, pencegahan influenza dapat dimulai dari kebiasaan sederhana sehari-hari. Untuk mencegah terjangkitnya virus, masyarakat dianjurkan mencuci tangan secara rutin dengan sabun dan air, menutup mulut dan hidung dengan tisu saat batuk atau bersin, serta menghindari menyentuh mata, hidung, dan mulut sembarangan. Penggunaan masker juga dianjurkan untuk menekan penularan influenza, baik bagi penderita ataupun orang sehat. Penggunaan masker pada penderita dapat mengurangi penyebaran virus, sementara pada orang sehat dapat menjadi alat pelindung dari paparan partikel infeksius di sekitarnya. Risiko paparan virus juga dapat ditekan dengan menjaga sirkulasi udara di dalam ruangan atau berkumpul di ruang terbuka.
Di samping perilaku hidup bersih, vaksinasi dapat menjadi salah satu opsi pencegahan influenza. Virus influenza terus berubah sehingga komposisi vaksin diperbarui secara berkala agar sesuai dengan virus yang tengah beredar. Vaksinasi tahunan, terutama dianjurkan bagi ibu hamil, anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, lansia, penderita penyakit kronis, dan tenaga kesehatan. Efektivitas vaksin dapat berbeda antarmusim dan antarkelompok, tetapi vaksin tetap dapat mengurangi tingkat keparahan penyakit serta menurunkan risiko komplikasi dan kematian.
Sebagai upaya pencegahan dan pengendalian influenza, Kementerian Kesehatan juga menghimbau agar dilakukan penguatan pemantauan influenza secara terpadu melalui pengumpulan sampel klinis berbasis Influenza-Like Illness (ILI) di Puskesmas dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di Rumah Sakit. Dalam hal ini, Labkesmas juga memainkan peran krusial dalam menjalankan surveilans berbasis laboratorium. Pelaksanaan surveilans bertujuan untuk memperoleh informasi guna mengarahkan tindakan pengendalian dan penanggulangan secara efektif dan efisien.
Referensi
- ANTARA. (2026, September 28). Menkes: Positivity rate influenza 56 persen pada M-38 masih medium. https://www.antaranews.com/berita/5761897/menkes-positivity-rate-influenza-56-persen-masih-medium
- Centers for Disease Control and Prevention. (2026, September 1). Healthy habits to prevent flu. https://www.cdc.gov/flu/prevention/actions-prevent-flu.html
- Centers for Disease Control and Prevention. (2009, November 25). Origin of 2009 H1N1 Flu (Swine Flu): Questions and Answers. https://archive.cdc.gov/www_cdc_gov/h1n1flu/information_h1n1_virus_qa.htm
- Hennig C, dkk. Are pigs overestimated as a source of zoonotic influenza viruses? Porcine Health Management. 2022;8:30. https://doi.org/10.1186/s40813-022-00274-x
- Kemenkes RI. Kemenkes: Kasus Influenza Meningkat, tetapi Masih dalam Rentang Kewaspadaan. 28 September 2026. https://www.kemkes.go.id/eng/kemenkes-kasus-influenza-meningkat-tetapi-masih-dalam-rentang-kewaspadaan
- Klivleyeva, N., Glebova, T., Saktaganov, N., & Webby, R. J. (2025). Cases of Interspecies Transmission of Influenza A Virus from Swine to Humans. Veterinary Sciences, 12. https://doi.org/10.3390/vetsci12090873
- Li, Y., & Robertson, I. (2021). The epidemiology of swine influenza. Animal Diseases, 1, Article 21. https://doi.org/10.1186/s44149-021-00024-6
- Petrova, V. N., & Russell, C. A. (2018). The evolution of seasonal influenza viruses. Nature Reviews Microbiology, 16(1), 47–60. https://doi.org/10.1038/nrmicro.2017.118
- Protocol: Transmission and prevention of influenza in Hutterites: Zoonotic transmission of influenza A: Swine and swine workers. (t.t.). PubMed Central. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2781820/
- Scarpa, F., Sernicola, L., Farcomeni, S., Ciccozzi, A., Sanna, D., Casu, M., Vitale, M., Cicenia, A., Giovanetti, M., Romano, C., Branda, F., Ciccozzi, M., & Borsetti, A. (2024). Phylodynamic and evolution of the hemagglutinin (HA) and neuraminidase (NA) genes of influenza A(H1N1)pdm09 viruses circulating in the 2009 and 2023 seasons in Italy. Pathogens, 13(4), 334. https://doi.org/10.3390/pathogens13040334
- Tenforde, M., Kondor, R. G. J., Chung, J., Zimmerman, R., Nowalk, M., Jackson, M., Jackson, L., Monto, A., Martin, E., Belongia, E., McLean, H., Gaglani, M., Rao, A., Kim, S. S., Stark, T., Barnes, J., Wentworth, D., Patel, M. M., & Flannery, B. (2020). Effect of antigenic drift on influenza vaccine effectiveness in the United States—2019–2020. Clinical Infectious Diseases. https://doi.org/10.1093/cid/ciaa1884
- Timeline: Investigating the origins of the 2009 pandemic. (t.t.). The Scientist. https://www.the-scientist.com/timeline-investigating-the-origins-of-the-2009-pandemic-69519
- World Health Organization. (2010, August 10). H1N1 in post-pandemic period. https://www.who.int/news/item/10-08-2010-h1n1-in-post-pandemic-period
- World Health Organization. (2025a, February 28). Influenza (seasonal) [Fact sheet]. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/influenza-(seasonal)
- World Health Organization. (2025b, December 10). Seasonal influenza – Global situation [Disease Outbreak News]. https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2025-DON586
Korespondensi : Tim Kerja Surveilans Penyakit, Faktor Risiko Kesehatan dan Kejadian Luar Biasa
Link Terkait :

Influenza di Indonesia Meningkat, H1N1pdm09 Mendominasi, apa yang perlu diketahui tentang Virus Penyebab Pandemi Flu 2009?
Surveilans Kementerian Kesehatan pada minggu ke-38 2026 mencatat peningkatan ... .jpg)
Diagnosis Influenza A: Peran Pemeriksaan Laboratorium dalam Deteksi Infeksi
Influenza merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang ...